Tanpa Suara

Ku diam memandangmu

Dekat dengan aku, di depan mataku

Tetapi pasti begitu jauh,

Jauh dari nyata mimpi indah yang ku damba

 

Tak bisa ku teriak, bilang kepadamu

“Aku rindu kamu”

Tak bisa ku berbisik, sentuh mimpimu

“Aku inginkan kamu”

Karena aku sadar aku siapa,

Engkau siapa,

tak mungkin bersama

 

Lalu semua ini terasa sunyi,

ku pendam sendiri,

rasa sesak di dada menjangkiti relung hati,

Tanpa suara, yang aku rasa nelangsa,

kau yang mencuri hatiku,

lalu aku diam, hening, sunyi, sepi, sendu, syahdu

Lama aku tenggelam dalam prasangka,

Nyatanya aku tetap diam tanpa suara,

Karena kau tidak akan menjadikan tempatmu berlabuh,

Bahkan bukan sebuah dermaga untuk meletakkan rindu,

Aku telah menyadarinya lebih dulu…

Advertisements

Hari Sepi

sang surya meniti detik demi detik pagiku

menghangatkan sepenggal cerita kelabu

yang kurasakan lelah, menjalani hari tak bertepi

ku coba berlari meski terlalu perih

ku coba terbang walau tak punya sayap

Kan kutemukan, setiap jejak yang hilang,

meninggalkan hari sepi tak berakhir,

kan kututup hariku dengan senyum,

tanpa air mata, yang kini telah membeku…

Love comes first from a college, spring at Choir

I don’t know why I’m crazy for you. It’s been 1 year passed since you entered in a same college with me. You’re my junior – I’m your senior, but we’re in the same age. But the only one I’m afraid of, we’re not in an equality for love. Maybe you’re too superior.

I don’t know how to explain, you’re too interesting, just make me waste all my long day and night to think about you. Sometimes, I watch your account, to make sure you’re still connected to me. I see you from a distance. I don’t know how to tell everything, maybe today isn’t a good time to do.

Hey you. We study on different study program, we learn different lessons. I don’t know how to tell, I’m falling too deep. It’s passed since 1 year ago, you know? Since I knew you 1 year ago.

We just met a month ago. Choir makes everything possible. Here, I can know how you act, talk, laugh, everything-anything. My love ever slept far away in my deepest heart, but it wakes up now. Since I met you in reality.

I don’t know how to talk. I just can admire. Maybe it will be the first I feel and wait for someone.

You always tell me about your family, I like it. Though I always think, you chase my friend-not me.

Hey, you. You’re pianist, drummer, vocalist, bassist, you’re just professional musician in my crazy mind. I adore your silly face, your dull hair, anything.

And the last, I just can make a wish, you will read this blog, a love letter to you. I publish my feeling here cause I can’t tell you now.

One day, you’ll know that I have a big treasure for you, that’s My heart.

-an empty talk from an alto girl,
just for you tenor boy, DR-

Tarian Temaram

Sang surya tertidur dalam lelah,
Hingga sinarnya menghilang lemah,
Tak bisakah aku diam tanpa desah,
Menuai di dada ada rasa resah,
Lalu senyummu mati ditelan malam,
Siapa kamu yang ditengah temaram?
Tersenyum seolah ingin tahu siapa aku,
Seolah hanya aku satu di depan matamu,
Lalu kau lupa?
Sebelumnya kau dengan siapa?
Lalu kau menari sendiri,
Merajut butir perih,
Hingga akhirnya sinar kembali temaram,
Kau termakan cahaya malam,
Ini masih jam sepuluh,
Saat aku bertemu denganmu,
Aku merasa hanya kau dan aku,
Bertemu di suasana kelam,
Membawakan tarian temaram…

Meragu

Dan kini aku bertemu lagi,
Denganmu sosok yang dulu jauh,
Kini tanpa kuduga,
Kau ungkapkan ingin bersamaku

Sejenak hatiku meragu,
Semua tlah terjadi,
Kau tlah jadi milikku hari ini,
Tapi akankah semua berlalu,
Berlalu lebih baik dari kisah sebelumnya?

Mungkinkah jika…
Suatu saat ku kan jatuh,
Begitu dalam ke hangat dekapmu,
Di hari ini ku masih meragu,
Apakah cinta ini sama seperti yang dulu,
Atau kah cukup kau hari ini jadi yang terakhir kali?

Cerita di Sudut Masjid

Well, long time no write my blog, yah reader 🙂 biasanya gue nulis puisi, kali ini gue bakal share sebuah cerita yang mungkin bisa sedikit menginspirasi. Cerita ini sekitar tanggal 1 September, tapi baru bisa menulis sekarang.

Berawal dari kepulangan gue dari Tasikmalaya menuju Bandung. Gue ke Tasik bareng keluarga untuk liburan, yah mumpung ngabisin minggu terakhir untuk libur, karena makin kesini gue makin sibuk dan adek-adek gue udah mulai masuk sekolah.
Sekembalinya ke Bandung, kita berangkat sekitar jam 11-an dan jalan santai, akhirnya pas jam 5 sore (kurang lebih), kita singgah di sebuah masjid di kabupaten Garut. Kita sekeluarga sholat Ashar. Mama gue sholat terakhir karena mukenanya gantian sama gue, dan akhirnya gue nunggu mama di pelataran depan masjid. Gak terlalu jauh dari tempat gue, ada seorang bapak-bapak yang menggelar dagangannya disitu. Dagangannya bermacam-macam, ada buku untuk petunjuk ibadah, kamus, parfum non-alkohol, dan lain-lain. Kebetulan bapak itu juga sambil nungguin dagangannya, dia santai di sebuah bangku kayu panjang. Papa gue duduk di sebelahnya, dan ngajak bapak-bapak itu ngobrol.
“Gimana pak dagangannya?”, Tanya papa.
“Alhamdulillah pak”, Jawab bapak itu.
“Bagus dong kalau gitu, pas bulan Ramadhan kemarin juga pasti meningkat kan pak?” Kata papa.
Bapak itu gak jawab, dia cuma senyum sambil mengangguk-angguk. Setelah itu papa juga gak menyahut lagi, dan berdiri, kembali ke mobil.
Mama masih sholat, dan mungkin karena udah sore banget, bapak itu merapikan dagangannya. Sedikit terbesit rasa iba, bapak itu dagang sendirian di pelataran masjid. Anak istrinya dimana? Kabarnya gimana? Gue gak berani membayangkan kalau memiliki hidup yang seperti itu.
Sampai pada akhirnya ada seorang anak kecil memberi nasi bungkus ke bapak itu, mungkin disuruh orang tuanya, bapak itu mengucap hamdallah dan berterimakasih. Gue cukup ikut senang disitu walau tidak memberi apapun. Bapak itu tidak kelihatan sedih, bapak itu tetap berusaha walau hanya dagang di masjid. Tidak seperti orang tidak mampu kebanyakan yang masih punya fisik kuat tapi hanya mengemis di lampu merah.
Dan gue semakin sadar, bersyukur itu bukan seberapa banyaknya harta yang dimiliki. Bersyukur itu wajib, sekalipun hidup susah atau senang. Buat gue, cara terbaik bersyukur itu rajin bekerja dan juga memberi sesama. Seperti yang pernah mama katakan, “Hidup itu indah, walau susah walau senang. Karena itu jangan pernah dibuat susah, jalanin aja”. Hidup itu indah, berjuanglah, bersyukurlah 🙂

(Diketik di Bandung, 9 September 2012)

Akankah?

Dan pagi itu aku menjejakkan kaki
Dunia baru akan kutempuhi
Wajahmu tak kulihat lagi
Kau ada di sudut berbeda kini

Waktu berlalu kita semakin berbeda
Aku berubah, kamu berubah
Kita tak searah, kita tak lagi sama
Waktu kita tak sama,
Jarak kita jauh tak terkira,
Lingkungan yg kita tempuhi berbeda,
Aku kamu tumbuh tak lagi seasa

Sampai akhirnya kita terpisah
Aku masih cinta padamu
Kamu yang dulu
Aku tau kamu masih suka padaku
Aku yang dulu
Ketika aku dan kamu kini tak lagi satu
Aku masih menunggu
Siapa saja yang bisa menggadai hatiku
Membelokkan setiap asa yang ada untukmu
Hingga kini belum kutemui dan aku bertanya,
Bisakah kita seperti saat pertama mencinta,
Akankah?

Dirimu

Ku jatuhkan lagi hatiku
Pada seseorang yang tak tahu
Aku yang disini selalu merindu

Satu hari tak berkabar
Imajinasiku liar
Kemana engkau jejaka
Yang kugoreskan dalam nafas cinta
Hanyalah namamu saja

Kulantunkan tembang kasih tentangmu
Karena aku begitu rindu
Terhanyut dalam angan tentangmu
Tentang kamu,
Dirimu…

Pagi Cerah

Kurasakan hangat mentari
Terang menerpa wajah ini
Dan kulalui kembali lagi
Hari-hari sepi ini

Tak pernah kan kubayangkan
Berjumpa denganmu hari itu
Saat hariku tersedu-sedan
Dan warna langit kelabu

Waktunya aku untuk kembali
Membenahi hatiku lagi
Tak usah lagi teringat lagi
Masa lalu nan lukai hati

Pagi cerah pertanda waktunya
Aku kembali arungi waktu
Melayang di langit indah dunia
Aku bertahan di kehidupan yang semu

Masih Jauh

Dan entah hujan sore ini,
Mengingatkan aku lagi,
Tentang kenangan masa indah yang pernah ku lalui,
Kamu tak tahu hal ini…

Sejauh aku mengingini,
Sejauh itu juga aku harus sadari,
Aku tak boleh begini,
Kau bukan milikku lagi…

Dan di saat kini aku terjatuh lagi,
Aku bangun lagi,
Masih dalam perjalanan ku kini,
Aku terus berlari,
Walau sial kadang aku jatuh lagi…

Sampai saat ini belum ada lagi,
Yang betul-betul mengikat hati ini,
Kemana aku berlari,
Banyak wajah baru kutemui,
Tapi tak satupun yang pastinya kuingini…

Langkah masih jauh dari tempatku berdiri,
Suatu hari nanti pasti kutemui,
Dia yang kan yakini diri,
Aku pantas bahagia dengan dia disisi…